Pemimpin Ideal Episode I: Iklan Politik

•26 Februari 2009 • 4 Komentar

PERINGATAN: harus dipahami bahwa cerita ini adalah fiktif semata dan tidak ada kesengajaan apabila terdapat kesamaan nama, cerita, ataupun cuma kemiripan, dengan kenyataan di negeri anda.  Cerita ini hanya terjadi di negeri Secangkirkopi.

Beberapa waktu terakhir saya banyak berdiskusi bersama kawan-kawan saya mengenai pemimpin ideal, iklan politik, dan pembangunan budaya poilitik. dan menjadi tanggung jawab moral saya, sebagai mahasiswa ilmu politik dan pemerintahan, untuk ikut menyumbang secuil pemikiran disini. tetapi apa yang saya tulis disini bukan hasil diskusi saya dengan kawan-kawan tadi, melainkan hasil olah kata dan silang pemikiran bersama tenan-teman imajiner saya. mereka adalah kursi, baliho, tipi dan radio. berikut petikannya:

pada sore yang begitu-betu saja, saya sedang bersemdi diruang kerja saya yang kebetulan juga menjadi studio dan galeri saya, merangkap kamar kos saya. datanglah tanpa dinyana-nyana kursi dan baliho. rupa-rupanya mereka sedang semangat berdiskusi hingga lebih tepat saya sebut gontok-gontokan.

saya : eh, eh, ada apa ini? sore-sore kok ribut. sore itu mestinya saat istirahat dan bersemedi. membaca hari yang baru saja lewat dan menyongsong gelap yang hendak menginap.
kursi : begini bang kalengrombeng, saya ini tidak setuju dengan mas baliho yang ngeyel dengan pikirannya yang berantakan itu bahwa pemimpin itu idealnya didukung rakyat!
baliho : lah iya dunk! pemimpin itu harus mendapat apa yang disebut LEGITIMASI dari rakyat. dan cara yang paling adil adalah dengan mengadakan PEMILU. pemilihan lansung!
saya : nah, iya dunk kang baliho. pemimpin itu harus mendapat legitimasi rakyat agar dapat menjalankan program-programnya untuk rakyat. masak iya mas baliho yang ndak didukung rakyat ini ujug-ujug jadi presiden. yak malah jadi perkara kalo ada yang ndak suka sama sampeyan.
Kursi : iya, saya setuju dengan itu….
Baliho : lha iya, kalo mas kursi sudah setuju, ya sudah. ndak usah bikin perkara baru lagi….
Kursi : ya tapi sebentar, saya selesaikan dulu kata-kata saya! saya belum selesai ngomong! saya ini juga punya hak bicara sama kayang kang baliho dan adhek kalengrombeng! jangan coba menyulut emosi saya! saya sedang ndak mau maen-maen ini!
Saya : iya, sabar Mas Kur.. Saya yakin Kang Baliho ndak punya maksud jelek kok. Jadi sekarang silahkan Mas Kur melanjutkan argumen Mas Kur yang tidak setuju dengan idenya kang baliho.
Kursi : Jadi begini, yang saya tolak dari Kang Bal ini bukan perkara pemilihan umum atau masalah legitimasi, melainkan pada poin dimana Kang Bal menyatakan bahwa untuk mendapat legitimasi, seorang calon pemimpin harus didukung mayoritas rakyat, bukan begitu pendapat Kang Baliho?
Baliho : Benar sekali. Oleh karena sebab itu, maka untuk itu sang calon pemimpin tersebut harus dikenal luas oleh masyarakat!
Kursi : Nah, disinilah lahir ketidaksepakatan saya dengan Kang Bal…. Kang Bal membayangkan keterkenalan atau yang lebih keren dinamai popularitas sebagai tonggal menjadi pemimpin! Pemimpin itu ya sepatutnya diukur kepantasannya dari  kerja dan kinerja yang telah ia capai sebelumnya. Jadi walaupun populer kalo ndak punya prestasi apa-apa ya mendingan masuk tong sampah saja, bukan begitu dhek kalengrombeng?
Saya : Hmm….. Ya, ya… saya malah baru saja memikirkan soal itu. Ternyata Mas Kur ini cukup kritis juga ya… hehehe….
Kursi : lah iya dunk, biarpun saya cuma lulusan PSK, pendidikan sekolah kejuruan jurusan perkayuan, saya juga melek politik.
Baliho : Eits, tunggu dulu! Justru disilah letak kelucuannya Mas Kur, dan saya jauh lebih jenius dalam hal politik ini.
Saya : Wah, Kang Baliho berani mengklaim bawa Kang Bal lebih janius? Jadi penasaran. Padahal Kang Bal sendiri ya cuman alumni WTS, Wetan Tugu School. Lalu, apa yang Kang Bal maksud lucu dari Mas Kur? Dan apa inovasinya akang sehingga layak menjadi seorang jenius?
Kursi : Alah, alumnus apa? dia toh ndak lulus. Kena DO gara-gara kebanyakan utang di kantin kampus…
Baliho : Eh, biarpun saya dikeluarkan, tapi bukan karena banyak utang kayak Mas Kur! saya dikeluarkan karena ndak disukai aja sama dosen-dosennya. Ya gara-gara ndak bisa nrima pendapat jenius saya….
Saya : Sudah, sudah, jangan ribut terus… Kapan cerita soal pemimpin idealnya ini? kalo ndak, saya mau semedi saja ini. Kasur saya sudah menunggu dari tadi…
Baliho : Oke, oke. Sabar Kal, saya atur nafas dulu. Ehem, ehem….. Jadi Begini, tadi kan Mas Kur Bilang kalau pemimpin itu sepatutnya diukur kepantasannya dari  kerja dan kinerja yang telah ia capai sebelumnya. Nah, masalahnya, bagaimana menyampaikan itu kepada khalayak? Apa ndak lucu kalo semua prestasi-prestasinya ditulis di kertas pemilu? Apa ndak malah jadi koran pemilu itu nanti? lha wong yang sekarang aja kertasnya udah gede katak tikar gitu….
Kursi : Lalu apa tawaran kongkret Kang Bal?
Baliho : Tawaran cerdas saya yang saya sebut sebagai sumbangan terpenting abad ini sehingga sepantasnya saya mendapat Award, yaitu mekanisme kampanye efektif melalui media massa. Baik cetak, elektronik, maupun media lain seperti stiker, pamflet, spanduk, banner, dan sebagainya.
Saya : Lah itu kan cara lama Kang? Apa jeniusnya?
Kursi : Benar sekali. ndak ada jeniusnya babar blas!
Baliho : Lho, kan saya baru cerita permukaannya saja, belum masuk isinya. Jadi ya sabar saja, ndak usah meremehkan….
Saya : Oke Kang. Silahkan cerita isinya…
Baliho : Jadi, setelah mendapat restu keluarga dan partai untuk maju pemilu, jangan lupa untuk menyebarluaskan berita pencalonan lewat media masa. Dengan jadi pusat berita dan sumber wawancara. Kemudian, setelah itu, jangan lupa hubungi teman-teman pengusaha. Minta doa dan tak lupa bantuan dana. Setelah itu, baru belanja baju dan celana. Tak lupa peci dan sabun mandi.
Saya : Wah, mau jadi pemimpin kok harus pake ritual aneh begitu tho kang?
Kursi : Iya nih, ngaco nih. Sudah sakit jiwa ya kang? Lupa berobat?
Baliho : Lho, itukan ritual pendukung, bukan ritual intinya. Kayak kalian kalo mau shalat atawa ke gereja. Sebelum kesana, perlu mandi dan dandan dulu…
Saya : Ya, ya. lalu apa itu musti diceritakan disini? Space-nya terbatas ini…
Baliho : Maaf, nanti kita lanjut di Part II aja kalo tidak cukup. Yang saya maksud disini, ritual ini adalah untuk sesi pemotretan!
Saya dan Mas Kursi : Hah?!
Saya : Dari tadi kita ngobrolin apa sih?
Kursi : Saya kok jadi bingung? saya yang bodoh atau Kang Baliho yang blo’on?
Baliho : Lho, kan ceritanya tadi mengenai mekanisme kampanye efektif kan? Dan sesi pemotretan ini adalah fase yang sangat krusial! Penting dan menentukan! Sepele tapi signifikan! Ibaratnya kalo mau tilpun atau SMS, ini beli kartu dan pulsa. Jadi ndak bisa tidak, harus sebaik-baiknya.
Saya : Jadi, maksud Kang Bal, sesi pemotretan ini adalah kunci dari kemenangan di pemilu?
Baliho : Benar! Tepat Sekali! Exactly!
Kursi : Sebentar, saya kok jadi tambah nggak dong… Tolong diceritakan dengan lengkap dan sederhana.
Baliho : Jadi begini, Om Pierre Bourdieu kan punya teori tentang habitus. Yakni tentang relasi agen dan struktur. Nah, dari saya saya cuplik sedikit mengenai teori modal.
Saya : Nah, nah, kalo itu kan harusnya ya dipakai semua. Mulai dari doxa dan paradoxa, habitus, modal, ranah, dan sebagainya itu?
Baliho : Itu kan kata Bourdieu. Dan yang mbaca tulisan dia ya cuman kalian aja, masyarakat luas kan ndak peduli, begitu pula saya. Jadi sah-sah saja saya kutip semaunya.
Kursi : Wah, berat ini, saya harus bersabar ini. Tolong jelaskan apa hubungannya antara sesi pemotretan tadi dengan modalnya Bourdieu itu…
Baliho : Jadi, Om Bourdieu (oia, mbacanya Borju atau Bordu, bukan Burjo! hehehe…) membagi modal jadi beberapa, comot saja modal ekonomi, modal sosial, modal kultural, dan modal simbolik. Yang lainnya boleh ikut Mas Kursi masuk tong sampah.
Saya : Ooo…. Saya tahu, maksud Mas Baliho, sesi pemotretan tadi sebagai elemen modal itu?
Baliho : Benar sekali dhek. Jadi, kita lihat urutannya secara terbalik. Pertama dari kemenangan di pemilu dan menduduki jabatan yang diimpikan. Kemenangan itu mensyaratkan untuk mendapat suara mayoritas di pemilu. Kemudian mundur lagi ke yang kedua, raihan suara mayoritas dimungkinkan kalau kita cukup dikenal luas oleh pemilih kita. Disana prestasi seperti yang dirujuk Mas Kur ikut berperan tapi bukan penetu, setidaknya bukan penentu satu-satunya dan yang utama.
Kursi : Lalu yang kamu maksud yang utama itu apa?
Baliho : Jadi, untuk mendapat simpati masyarakat, kita kan harus dikenal. Tak perlu kita bingung dan macam-macam. kuncinya adalah iklan! Biarkan foto kita terpampang di koran-koran, majalah-majalah, kaos, baliho, stiker, pamflet dan media lainnya.
Saya : Tapi kalau sesederhana itu, calon pemimpin yang lain juga melakukan hal yang sama, maka peluangnya sama besar, hasilnya adalah jadi pemimpin semua, atau tak ada yang berkuasa semua….
Baliho : Nah, disitulah letak strategis dari sesi pemotretan. Siapa berhasil membuat foto diri kelihatan seramah mungkin, seganteng atau cantik mungkin, maka peluang untuk menang semakin besar!
Kursi : Nah lo, kok jadi mirip lomba foto model begitu? memang pemilih itu juri foto model, apa? Huh?!
Baliho: Nah, itu tadi yang disebut Dhek Kalengrombeng sebagi modal. Saya uraikan satu persatu saja, biar Mas Kur paham.
Saya : Ya, begitu. Biar saya juga nge-dong juga. Jujur, saya ndak tertalu paham juga…
Baliho : Jadi yang pertama, modal ekonomi. Sederhananya, modal ini berupa kekuatan materi. Kedua, modal sosial. Sejatinya pengertiannya panjang-lebar, tapi saya sebut sebagai modal jejaring, modal pertemanan, link kemana-mana. Termasuk mungkin pembaca tulisan ini yang mendapat link ini dari jaringan pertemanan. Dan ketiga, modal kultural. Ini yang saya terjemahkan secara bebas sebagai modal berupa prestasi, kerja dan kinerja, atau elemen keilmuan tadi. Serta puncaknya saya tunjuk ke modal simbolik. Modal ini yang paling kuat dan menentukan sekali, terutama dalam kultur masyarakat yang pendek ingatan dan mudah terbujuk kayak di negeri Secangkirkopi ini.
Saya dan Mas Kursi : Oh, begono maksudnyo….
Kursi : Tapi bukankah itu bertentangan dengan yang Kang Bal sepakati, bahwa prestasi itu penting?
Baliho : Seperti saya bilang tadi, itu penting, namun bukan satu satunya dan penentu utama. Saya lanjutkan perihal modal tadi. Modal-modal yang dibutuhkan komposisinya berbeda untuk pemilu di Secangkirkopi. Dan analisis saya, yang pertama dan utama adalah modal simbolik tadi. Yakni, modal yang bermain dalam tataran simbol. Dan foto ganteng dengan senyum ramah tadi dipakai untuk menyimbolkan bahwa yang numpang nampang di stiker-stiker dan spanduk-spanduk itu layak dipilih. sebutan populer di negeri antah berantah adalah, politik pencitraan.
Saya : Oo… Berarti maksud Kang Bal, persaingan untuk meraih kemenangan untuk merebut kepemimpinan di Secangkirkopi adalah tidak beda dengan lomba foto model? siapa paling fotogenik, dia punya peluang besar menjadi pemimpin?
Kursi : Wah, bisa berabe kalo pemerintahan kita isinya adalah mode semua. Salah-salah Jupe alias Julia Perek itu bisa jadi presiden gara-gara banyak yang nonton foto syurnya….?
Baliho : Ya nggak segitunya lah Mas, kan elemen modal kultural, modal sosial, dan modal ekonominya juga diperhitungkan….
Saya : Ya, untungnya Julia Perek itu ndak maju pencalonan. Masih sayang dia ama duit, daripada dibuang-buang buat bikin kaos. Lha dia saja pake baju ngirit gitu… Syukur lagi kultur masyarakat kita masih pemalu, ndak vulgar-vulgar amat. Syukur satu lagi Julia Perek belum punya jejaring di parpol walau banyak orang parpol yang suka selingkuh. Malah saya pernah denger calon dari Partai Kaleng Susu (PKS) yang mengaku bersih dan peduli itu ada yang kepergok lagi maen kuda-kudaan ama cewek bukan istrinya.
Baliho : Itu mah, menjalankan kepeduliannya ama “Susu” itu tadi….. hahahahaha….
Kursi : Hus, jangan Bicara ngawur! Ada UU Pornoasyik lho di Secangkirkopi!
Saya, Baliho, dan Kursi : Hahahaha…….
Kursi : Wah, seru juga ya, sampe lupa kalo saya harus shalat. Dan bukannya Kang Baliho harus ke Gereja juga? Dhek Kalengrombeng katanya anak HMI (Himpunan Manusia Ideolog), apa ndak waktunya ibadah juga?
Baliho : Aduh, tiba-tiba saya ingat kalo ada janji dengan klien saya yang mau konsultasi buat sesi pemotretan besok. Saya buru-buru ni, lansung cabut saja ya…. Hehehehe…
Saya : Wah, gara-kara kalian waktu semedi saya hilang. Saya mau semedi dulu saja. Kasian kasur saya kedinginan. hehehehe….
Kursi : Huuu….. Dasar orang kere! Waktunga ibadah selalu saja berkelit… Tapi ngomong-ngomong saya juga baru inget kalo harus bikin angkringan. hehehe…. Ya sudah, sampai jumpa pada episode Selanjutnya…….

Politik: Sebuah Pekerjaan atau Pengabdian?

•26 Februari 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

PERINGATAN: harus dipahami bahwa cerita ini adalah fiktif semata dan tidak ada kesengajaan apabila terdapat kesamaan nama, cerita, ataupun cuma kemiripan, dengan kenyataan di negeri anda. Cerita ini hanya terjadi di negeri Secangkirkopi.
Kawan saya, Pitakado namanya (nama sebenarnya di Negeri Secangkirkopi) selalu mendebat saya bahwa segala yang berbau politik adalah buruk dan busuk, apa lagi jika bersinggungan dengan uang. Saya heran, darimana ia dapat pemikiran seperti itu, padahal ia adalah mahasiswi yang belajar ilmu politik dan pemerintahan di WTS (Wetan Tugu School). Jadi, toh ia kalau mau bekerja juga menggunakan gelar politiknya dan tidak jauh-jauh dari politik.
Saya tak hendak membela diri dari kenyataan bahwa banyak dari para pekerja politik itu buruk dan busuknya minta didaur ulang! Tetapi ada juga pejuang politik yang masih bisa dipakai ulang (reuse) untuk masa lima tahun berikutnya. Lalu bagaimana sih sebenarnya letak dan kedudukan politik? Dimana Letak uang dalam hubungannya dengan politik? Saya jadi penasaran dan kadang berpikir bahwa benar yang disampaikan Pitakado pada saya, bahwa politik itu atmosfirnya para setan. Dan saya mencoba mengundang pakar yang benar-benar ahli dibidang politik dan pemerintahan untuk saya wawancara dan hasilnya adalah sebagai berikut:

Saya : Selamat malam pak, saya Kalengrombeng dari Satpol PP (Satuan Politik Persmaya Parodiusil). Sebelumnya saya minta maaf jika harus mengganggu jam kencan Pak Benderasobek dengan selingkuhan bapak, tapi ada hal penting dari sekedar bapak tidur dengan selingkuhan bapak. Ini soal politik pak, sangat pas dengan bidang aktivisme bapak di Partai Kaleng Susu (PKS).
Benderasobek : Ya, saya tahu anda itu Dhek Kalengrombeng yang suka usil bikin tulisan di blog menyinggung partai saya dan kawan-kawan yang lain di Pemimpin Ideal Episode I: Iklan Politik. Padahal saya tidak disinggung dalam soal iklannya, tapi soal yang lain. Dan saya tidak terganggu dengan jam tidur saya, soalnya sayapun juga tidak tidur kalau dengan selingkuhan saya.
Saya : Wah, maaf pak, nanti saya usulkan kepada penulis cerita ini untuk membahas bapak atau partai bapak dalam iklan politik dalam episode-episode berikutnya. Tetapi yang mau saya tanyakan adalah apakah bapak setuju jika kawan saya, sebut saja Pitakado, bekerja dalam bidang politik. Artinya, ia mencari makan dari aktivitas berpolitik. Bagaimana pandangan bapak?
Benderasobek : Saya tidak setuju ia terjun kepolitik untuk mencari makan!
Saya : Jadi bapak termasuk orang yang setuju bahwa politik itu adalah ruang pengabdian dan orang harus rela berkorban untuk berpolitik, bukan sebaliknya bahwa politik adalah juga bidang pekerjaan? Begitu bapak?
Benderasobek : Bukan, bukan beitu yang saya maksud!
Saya : Lalu?
Benderasobek : Sekarang coba adhek hitung ada berapa jumlah partai peserta pemilu, berapa jumlah calon legislatif untuk DPR Nasional Secangkirkopi?
Saya : Waduh, maaf pak, saya belum mencari datanya. Tapi yang saya tahu ada 38 partai nasional dan enam partai lokal yang ikut pemilu 2009 ini pak.
Benderasobek : Benar sekali. Cukup banyak kan? Itu itungan jumlah partai, belum caleg, belum orang yang mengurus partai, kader muda, dan simpatisan. Jumlahnya bisa jadi separuh populasi Secangkirkopi saat ini.
Saya : Lalu apa hubungannya dengan Politik sebagai pekerjaan atau pengabdian tadi pak?
Benderasobek : Adhek pernah belajar ekonomi waktu sekolah di SMA kan? Pernah dengar tentang hukum keseimbangan antara permintaan dan penawaran? Coba bayangkan jika penawaran kita asumsikan sebagai jumlah uang beredar dalam politik, dan permintaan kita asumsikan sebagai jumlah politisi. Apa yang dapat adhek sipulkan dari sana?
Saya : Ya kesipulan sederhana saya, akan terbentuk keseimbangan juga pak.
Benderasobek : Sekali lagi, adhek Kalengrombeng benar. Cerdas. Tepat sekali. Pertanyaannya kemudian adalah, jika kemudian kawan adhek yang bernama Pitakado tadi ikut-ikutan terjun kedalam politik, dan ia kita asumsikan menjadi politisi yang ada dalam keseimbangan awal tadi, apa yang akan terjadi?
Saya : Saya pikir itu akan menggeser kurva keseimbangan dan akan terbentuk keseimbangan baru pak.
Benderasobek : Ya, tapi ingat, asumsinya adalah jumlah uang beredar dalam politik relatif tetap. Ini berkaitan juga dengan jumlah kursi yang diperebutkan. Apa yang terjadi adalah menurunnya kesempatan untuk mendapat kursi dewan. Bukan Begitu?
Saya : Iya, tapi apa hubungannya dengan pertanyaan saya pak? Maaf pak, saya kan masih muda, belum terlalu paham dengan logika cerita bapak.
Benderasobek : Aduh, tadi saya puji anda, tapi ternyata Dhek Kalengrombeng ini lemot juga ya…!
Saya : Maafkan pak…
Benderasobek : Ya. Sederhananya begini, adhek bekerja sebagai tukang cukur di sebuah kampung, karena kampung itu hanya ada satu tukang cukur, yakni adhek saja, maka katakanlah pendapatan perminggu adhek sebagai tukang cukur adalah Lp. 700,000 (mata uang Negeri Secangkirkopi, dibaca tujuh ratus ribu lepek). Nah, karena banyak yang tergiur dengan besarnya pendapatan adhek (Lp. 1 setara dengan 1 IDR atau Rp. 1), teman-teman adhek yang awalnya bertani, pengojek, peternak, bahkan pencur dan perampok, berpodong-bondong alih profesi sebagai tukang cukur. Dan ingat, kepala orang itu rambutnya minta cukur berkala, tidak setiap hari minta potong! Yang akan terjadi adalah bukan semua mendapat penghasilan Lp. 700,000 tetapi Lp. 700,000 tadi dibagi seluruh tukang cukur yang ada. Misalnya ada 70 tukang cukur, maka pendapatan adhek dan yang lainnya rata-rata Lp. 10,000 perminggu. Artinya apa? Kalau kawan adhek yang namanya Pitakado tadi itu ikut terjun dipolitik, maka bisa-bisa uang jatah saya disambar dia dan tinggal berapa? Kan saya butuh menghidupi anak istri dan selingkuhan-selingkuhan saya juga. Apa adhek mau menanggung biaya hidup mereka?
Saya : Waduh pak, saya kan tidak ikut-ikutan gulatnya, masak saya harus ikut bertanggung jawab pak? Bapak dapat nangkanya, saya kebagian getahnya dong…
Benderasobek : Makanya kamu kasih tahu itu teman-teman kamu siapa saja yang mau masuk ke politik untuk mengurungkan saja niatnya. Apalagi yang orientasinya duit. Lha wong yang orientasinya pengabdian seperti guru saja ternyata ya minta naik gaji kok…
Saya : Hehehe…. Jangan menghina guru pak, ayah saya kan guru juga… Nanti bapak bisa kualat lho…
Benderasobek : Saya tidak menghina, itu berita nyata. Sungguh-sungguh terjadi, ada di koran KR (Kabar Ruwet, surat kabar lokal di Yogyakaya dan sekitarnya). Adhek harusnya bersyukur dan meniru ayah adhek, beliau kan juga punya bengkel, dan beliau selalu gigih, baik pengabdiannya mengajar maupun mencari nafkah dari usaha bengkel.
Saya : Iya pak, terimakasih. Ayah saya pasti senang mendengarnya. Jadi kalau boleh saya simpulkan sedikit, bapak tidak setuju orang yang masuk politik sebagai pencari kerja (baca: uang) karena akan merubah keseimbangan yang ada dan mengurangi pendapatan politikus senior seperti bapak. Kedua, jika memang berniat mengabdi, maka haruslah punya pekerjaan tetap diluar kegiatan pengabdian, sehingga uang tidak akan menghalangi kinerja untuk melaksanakan pengabdian. Dan kesimpulan ketiga biar ditarik pembaca sendiri saja. Terimakasih atas waktunya, semoga Partai Kaleng Susu bisa menjari motor untuk perubahan kelakuan, pak ya? Biar orang seperti bapak ditendang jauh-jauh dari politik. Hehehehe…

FILSAFAT KERTAS BEKAS

•26 Februari 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

PERINGATAN: harus dipahami bahwa cerita ini adalah fiktif semata dan tidak ada kesengajaan apabila terdapat kesamaan nama, cerita, ataupun cuma kemiripan, dengan kenyataan di negeri anda. Cerita ini hanya terjadi di negeri Secangkirkopi.

Beberapa waktu lalu saya ada meeting dengan Save Our Sex Secangkirkopi, nah disana saya mendapar pencerahan sedikit dari kata-kata yang dilontarkan Mas Gendut, atau nama aslinya Gentongbekas. Mas Gentongbekas ini berkomentar tetang ketidakmauan untuk Bergabung dengan SOSx Secangkirkopi, padahal beliau cukup banyak membantu dan berpartisipasi. Bahkan kabarnya beliau juga mengucurkan sejumlah dana demi berlangsungnya Stan SOSx Secangkirkopi di JoGFest alias Joglangan nGetot Festival, yang diadakan oleh JE (Jendela Esek-esek) pada 14 Februari 2009 di Gedung Unani Kompleks Wanitaseksi Kab. Slengean, Prop. Jogjakaya, Negara Secangkirkopi.

Saat ditanya begitu, beliau dengan bijak menyatakan bahwa daripada saya masuk tetapi nanti tidak bapat berbuat banyak, lebih baik saya jadi relawan saja. Saya rela memperawani siapa saja aasal suka sama suka. begitu kiranya kata beliau. Dan ketika didesak, beliau mengutip kata-kata yang beliau curi kari Kitab Suci Agana Ngrasani, Kitab Inggil. Begini Bunyinya: Biarlah Saya Menjadi Kertas Bekas Saja. Dilipat-lipat Tak Karuan, Lalu Disumpalkan Menjadi Ganjal Kaki Ranjang.

Beliau menjelaskan, itu tidak berbeda dengan apa yang ada dalam Kitab Suci Agama Selam, Kitab Joran, bahwa: Lebih Baik Menjadi Sesuatu yang Tidak Penting, tetapi Signifikan Adanya.

Jika saya boleh menelisik sisi filosofis dari dua ungkapan berkaitan itu (kan dari tradisi agama yang sebapak, termasuk dengan Agama Jauhi-Isramel, yakni tradisi ajaran Abrasi) da keluar dari teks agama, maka saya juga menemukan satu cahaya yang yang luar biasa mulia. Berikut cuplikan penelitikan saya:

Kertas yang menjadi ganjal ranjang memang tidak penting, tapi signifikan untuk meredam goncangan dari dua mahluk yang begulat diatasnya. Bayangkan saja apabila tidak ada kertas itu sebagai ganjalan ranjangnya. Bisa-bisa dua mahluk yang sedang gulat itu tidak lagi bergairah melanjutkan gulanya. Betapa tidak? Bukankah suarnya akan menjadi bising berisik dan ranjangnya jadi tidak nyaman? Jika sudah begitu, kehadiran dari kertas bekas itu tak dapat diabaikan peranannya.

Kertas bekas, biasanya hanya menjadi sampah, dan bahan gontok-gontokan antara saya dan pengepul kertas bekas. Biasanya mereka menilai kertas bekas terlalu rendah sedangkan saya menghendaki terlalu mulia. Dengan pemanfaatan kertas bekas sebagai ganjal yang bisa di setting tebal-tipisnya, ia menjadi berjasa dan tetap bernilai guna, ekaligus mengindarkan saya dari perkelahian dengan pengepul kertas bekas tadi.

Selain itu, menjadi sesuatu yang tidak penting (sepele) tetapi signifikan sungguh mulia kedudukannya. Kita harus belajar menjadi sesuatu yang tidak sok penting, tetapi signifikan seperti itu. Contoh lain selain kertas adalah Kondom! (saya sempat berpikir, kenapa bukan ini yang disebutkan didalam Kitab Inggil maupun Joran, belakangan saya menemukannya dalam Kitab Aurat. Jadi, ternyata sebenarnya tiga kitab itu isinya sama hanya beda bahasa dan istilah. Mungkin karena perbedaan tradisi semata) Kondom bukanlah sesuatu yang istimewa,. Ia biasa saja, namun banyak pasangan membutuhkan dirinya. Kalau pembaca pernah menginap di villa-villa di daerah Kalicurang, kawasan Gunung Merpapi, cobalah datang kewarung kelontong terdekat. Lihat-lihat dan pembaca akan menemukan kondom terpampang jelas di etalase. Jika tidak yakin keberadaanya signifikan, coba introgasi san pemilik toko, barang apa yang paling bayak dicari, niscaya jawabnya tak lain dan tak bukan adalah kondom. Terlebih dengan inovasi adanya kondom rasa durian, stroberi, pisang, dan yang populer adalah kondom dengan versi melonrasaduren, keberadaan kondom bagi pasangan asmara tak dapat ditawar-tawar lagi. Bayangkan berapa kasus selingkuh akan terungkap, putus sekolah, bunuh diri, aborsi, dan masalah penyakit menular seksual yang dapat dicegah oleh sebuah kondom? Sungguh sangat signifikan!

Dari contoh diatas, saya tarik satu kesipulan sederhana, yaitu bahwa biarpun kita sering dianggap sampah oleh kebanyakan orang, atau bahkan ada yang mengatai kita sebagi yang menjijikkan, kita tidak boleh berputus asa dan harus mampu menunjukkan pada dunia, walaupun kita sepele dan tidak penting, tetapi kita signifikan adanya di dunia ini. Dan seperti slogan dari HMI (Hubungan Masuk-keluar Intim), Yakin Uenak Sekali.

Jangan biarkan diri anda merasa Useless. Jangan hakimi diri anda sebagai orang tak berguna. Jangan merasa sebagai sampah yang menjijikkan dan terbuang. Percayalah kemuliaan akan datang. Percayalah bahwa dunia membutuhkan diri anda. Percayalah bahwa tidak diciptakan sesuatu itu dengan sia-sia. Percayalah, percayalah!

Special Thanks to: Allah (God), Muhammed SAW, Isa AS, Musa AS, Ibraham AS. And Mas Tyo Gendhet.

Thanks to : Jendela Ekologi (JE), Save Our Sea (SOS) Indonesia, HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Cabul (Cab. Bulaksumur) Yogyakarta. And Rep. Indonesia.

Truly Sorry: Allah (No Other God!)

Special Sorry to: Muhammed SAW, Isa AS, Musa AS, Ibrahim AS.

Sorry to: Mas Tyo Gendhet, JE, SOS Indonesia, HMI Cabul Yogyakarta. Rep. Indonesia, and Supporter of UU Pornografi.